Tags

Cinta. Satu hal yang banyak diharapkan orang  untuk datang menghampiri. Banyak diidamkan dan tak jarang membuat iri. Namun cinta, tak terpungkiri merupakan satu hal yang pun banyak melukai. Seperti aku, si epigon golongan pencinta, yang kini terperosok, terlongsor ke tempat terdalam yang gulita. Tanpa pelita. Aku terluka, dan kutuding cinta sebagai biang keroknya.

[photo credit: cupcakelovie.deviantart.com]

Awalnya memang, indah kerap terasa. Manakala cintamu mencurahkan perhatiannya. Manakala ia membuaimu mesra, hingga tak terasa, kau sudah di atas sana. Di sana! Di altarnya dewa-dewi cinta. Cinta menjamumu dengan sempurna. Terasa amat melengkapi hidupmu bak bulan purnama. Tapi memang tak disangka. Rasa manis itu hanya ada di awal saja.

Tatkala cintamu acuh. Di masa cintamu enggan untuk sekadar menoleh. Mengirimkanmu senyumnya. Ketika cintamu merencanakan kepergiannya. Pergi selamanya meninggalkanmu laiknya anak haram. Maka niscaya, hancurlah kamu beserta hatimu yang dulunya disanjung-sanjungkan cinta.

Keruntuhan itu begitu besar. Seperti terjangan tsunami yang kuat menggulung muka bumi. Selayaknya semesta yang kehilangan keseimbangan. Keruntuhan itu, sedemikian hebatnya, sampai-sampai mampu mengirimmu dalam jurang yang tak terdefinisikan dalamnya. Seperti aku, si epigon golongan pencinta, yang kini terperosok, terlongsor ke tempat terdalam yang gulita.

Pahitnya pungkasan yang diberi cintaku, kini membuatku sadar. Segala buai duniawi cinta adalah fana. Bukan satu yang kekal abadi layaknya dzat yang kita puja puji. Semua dekap, sayang, dan ketulusan, bisa jadi satu konspirasi cinta. Konspirasi busuk untuk menjebloskanmu ke tempat sekarang aku bersarang. Berhati-hatilah, cinta itu penuh hipokrisi! Ia adalah penyamar sekaligus penyusup kehidupan terlatih yang bisa jadi membuatmu gila. Berhati-hatilah, cintamu itu laksana sulfur, yang ampuh membuatmu mati lemas. Tak berdaya. Tapi jangan pernah aku dan kamu, para pengepigon cinta, hanya bisa stagnan. Pada keterpurukan. Pada kekalahan.

Konversikan kepahitan yang melanda menjadi kobar api. Menjadi bara menyala yang setia mendorong lokomotif melindas rel panjang. Kita, yang terperosok dalam jurang yang gulita, yang tak terdefinisi dalamnya, harus mampu bangkit. Lihat di depanmu, ada pucuk-pucuk dakian. Mereka bisa membawamu dan aku terbebas dari gulita, dari dalam yang tak terdefinisi. Mengantarkanmu dan aku, mengantar kita, kepada sosok yang kita kenal sebagai mimpi. Ya, mimpi.

Kita pernah tertawa, kita pernah berlinang air mata. Kita pernah terbuai, kita pernah dirobohkan. Semua rasa yang digenerasi cinta itu, pada dasarnya, bukanlah esensi hidupmu, hidupku, hidup kita! Buatku, meraih mimpi, ialah bagian terpenting mengapa aku masih bernafas. Mengapa aku bisa menyapa bumi, matahari, dan mengasihi isinya. Tiba saatnya kita bergelayut di tangan Tuhan. Memohonkan kuasa-Nya terbagi, tersalurkan pada kita. Itu sebagai energi mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita. Mari kita perjuangkan itu!

Boleh juga kita mohonkan maaf bagi cinta kepada-Nya. Mendoakannya agar kembali lurus dan menanggalkan segala hipokrisi dan konspirasi, serta mengenakan kejujuran dan ketulusan asli. Baru kita bisa menanti, cinta putih untuk kembali. Cinta indah yang bisa menghiasi. Kecintaan aku, kamu, kecintaan kita pada-Nya.

 

*) Teruntuk cintaku, yang telah meninggalkan dan kutinggalakan. Maafkanlah aku.