Tags

, , , , , , , , , , ,

field

[Photo credit: emats.deviantart.com]

Angin sejuk berhembus segar menggandeng dedaunan kering yang gugur terpisah dari cokol pohonnya. Semilirnya menyisir rambutku pelan-pelan. Aku terpaku dibelai tangan-tangan angin sembari menikmati siraman rohani yang disirat di sela khutbah. Kutopangkan daguku sambil menyimak mimbar dengan seorang ustadz penguasanya.

Kali ini tentang bersyukur. Satu hal yang sering diserukan, tapi kerap pula diabaikan. Manusia selalu mengeluh tak berkecukupan. Mengeluh akan kesengsaran yang merayapi kehidupannya, yang akunya bisa membunuh perlahan. Manusia tak pernah merasa puas. Abai bersyukur pada Illahi Robbi. Meski tak semua.

Pun, manusia selalu mencari kesuksesan. Kesuksesan yang entah di mana ini selalu sukses merangsang otot manusia bekerja, dan otaknya berputar. Demi meraih koordinat pasti kesuksesan hidupnya. Padahal, yang tak mereka sadari, sampai sekarang, diri mereka ialah pengejawantahan kesuksesan.

Pikirkanlah. Sebelum fisik manusia terbentuk, telah terjadi seleksi di ranah biologis. Calon-calon manusia berenang bersama, demi tujuan akhir yang identik–menembus dinding sel telur. Satu demi satu tumbang, kalah, dan mati sebelum mampu menyusup. Sedangkan benih yang paling perkasa, yang paling kuat, yang paling sukses–yang tidak lain benih diri kita–berhasil membobol dinding ovum, lalu lewat beberapa tahap transformasi berubah menjadi diri kita.

Benar-benar kesuksesan dari Yang Maha Agung. Tapi, pernahkah kita mensyukurinya? Bersujud syukur menghantar rasa terima kasih kita pada-Nya?

Tidak? Bahkan mungkin mengucap hamdalah untuk itu saja tidak pernah. Kita selalu menakar kesuksesan dengan kadar materiil yang bisa dihitung secara matematis. Bila koleksi rupiah tertimbun banyak seperti lemak, kita akan menamai dan dinamai ‘sukses’, namun, bila yang sebaliknya terjadi, kita pasti akan mengutuki dan dikutuki sebagai ‘orang susah pembawa susah’.

Kita alpa dengan kesuksesan dalam tataran filosofis yang kadarnya jauh lebih berharga ketimbang kesuksesan kasat mata. Kalau dirasa-rasa, ini memang sungguh naif. Dunia seakan menggejala menjangkiti sisi kehidupan kita, sehingga pojok-pojok otak kita seolah sudah sesak diduduki hasrat serta obsesi duniawi, sehingga plot-plot syukur pada Allah SWT semakin tergusur lalu mengalami delesi dari otak kita.

Sudah saatnya bersyukur

Usai tercengang meresapi makna khutbah Jumat ini, marilah kita bersama bersimpuh dan menengadahkan tangan memanjatkan syukur pada Allah. Mengucap hamdalah–meski untuk pertama kalinya–atas penciptaan kita di dunia. Penuhilah diri kita dengan rasa syukur pada tiap detiknya.

Hirup oksigen dengan nama Allah, kemudian rasakannya memenuhi parumu. Nikmati dan syukuri saat alirannya memasuki lubang hidungmu. Menggetarkan buluh-buluh halus di dalam, lalu membanjiri tenggorokanmu, dan bermuara di alveoulus. Nikmati dan syukuri saat paru-parumu penuh. Sadarkan dirimu bahwa kamu adalah seorang manusia. Ciptaan Allah yang telah sukses melampaui ujian pra-kehidupan-Nya.

Syukurilah nafas-nafasmu, juga detak jantung, dan pencernaanmu. Semua masih bekerja karena kamu sukses menempuh segala coba yang dilimpahkan-Nya padamu. Cintailah dirimu sebagai piala kesuksesan yang berharga ribu triliunan–kalau memang masih berpikir materialistis–yang walau kekayaan seluruh orang di bumi dijumlahkan, takkan bisa membelinya. Karena nominalmu tak terhingga.

Lalu aku…

Aku masih terperangah sekaligus merinding. Aku sadar, aku termasuk orang yang tak pandai bersyukur. Paling tidak sampai saat itu. Aku seorang perfeksionis yang selalu mengeluh dan mengeluh. Tak pernah cukup merasa puas.

praying

[Photo credit: uphat.deviantart.com]

Kalau kita masih sama, kini saatnya kita berubah. Mari bersama-sama ikut jamaah yang menengadahkan tangan memanjatkan syukur pada Allah SWT. Biarkan bulir-bulir air mata kita meleleh atas nama syukur pada-Nya. Mari meratapi dan menyadari, hidup ini sungguh penuh kesuksesan. Hanya kita tak sepenuhnya sadar tentangnya.

***

Hidup yang oh… penuh dinamika!