Tags

, , , , , , ,

Cahaya mentari yang menyorot tembus jendela kamarku diiring getaran alarm telepon genggamku telah sukses membangunkanku Sabtu (20/6) pagi ini. Kusapu pandangan, melongok ke pucuk-pucuk ruang kamarku, lalu kurasakan pula uap-uap embun ujung rerimbunan daun kelompok Bunga Tanjung di lepas batas jendelaku. Aku tersadar, ini waktu bangun terpagiku seminggu terakhir––pukul 08.00. Segera kuregangkan otot-ototku dengan mulet kecil.

Bergegasku melakukan kegiatan favoritku––mandi. Biarku semakin dirayapi kesegaran serta gairah alam semesta akhir pekan lewat bulir-bulir air yang rontok memancur, membasahi sekujur tubuhku. Sensasi kudapat, semangat kuraih. Rasanya kegembiraan melimpahiku pagi ini.

Usai mandi, otakku berputar, berpikir hendak ke mana. Sudah hampir seminggu ini hari-hariku habis melanglangbuana ke beberapa stasiun televisi, membantu teman-teman mencari dana. Padahal, inginku pergi ke planetarium TIM minggu ini, namun selalu batal akibat ketidaksanggupanku menolak ajakan teman-temanku. Apalagi tujuannya membantu.

Otakku kembali berpikir. Pada akhirnya, tercetus perpustakaan pusat sebagai destinasi utama hari ini. Aku baru ingat jika ada lomba essay menarik. Deadline-nya masih akhir bulan ini. Lumayan untuk mengisi waktu luang. Akupun langsung bersemangat kemudian bergegas memasuki bis kuning guna mencapai perpustakaan itu.

Saat berhenti di FISIP, aku turun dari bis. Menurut perhitunganku, berjalan dari FISIP ke perpustakaan pusat memakan waktu paling singkat dibandingkan bila aku berhenti di halte fakultas lain, apalagi FK. Ha-ha-ha. Selain singkat, aku begitu mengagumi fragmen-fragmen pemandangan yang dikandung FISIP-ku tercinta. Mulai orang-orang bercengkerama, mahasiswa yang sibuk dengan tumpukan kertas dan buku, office boy yang sedang menjalankan titah atasannya mewujudkan FISIP yang bersih, sampai pada daun-daun lebar pohon sebangsa palem dan kelapa yang berkibar-kibar serupa bendera menjadi bagian yang kurindukan sekaligus kucintai dari FISIP.

Menyeberang FISIP, aku tiba di FIB. Tetangga terdekat FISIP ini juga memiliki pemandangan-pemandangan yang eksentrik. Akan tetapi, tak tahu mengapa, pemandangan di sini cenderung lebih menyeramkan ketimbang mengagumkan. Patung-patung, miniatur candi, juga replika gua menjadi ciri khas pemandangan di sana, yang bagiku, malah menambah aura keseraman FIB.

Sejurus setelah menaiki tangga dekat gedung 2 FIB, aku kini berjalan di depan gedung 9. Di selasar auditoriumnya tampak ramai dipadati bocah-bocah kecil berdandan seperti hendak menari. Aku penasaran. Langkahku berbelok. Sekarang yang kutuju ialah kerumunan bocah itu. Semakin masuk, semakin ramai saja anak-anak. Umur mereka bervariasi dari kisaran 5 tahun sampai dengan 12 atau 13 tahun. Mereka semua berdandan dan berpakaian tradisional. Kendati aku penasaran, tak tahu kenapa, aku malu bertanya. Jadi, aku hanya menghayati pandangan-pandangan mataku sembari berusaha terus mengartikannya lewat persepsi-persepsi stimulus inderawiku.

Kupandangi wajah-wajah mereka. Sebagian tampak gembira. Tapi sebagian lagi tampak tegang dan murung. Aku baru tahu alasan sebagian mereka murung setelah memasuki auditorium gedung 9. Terbentang di tengah panggung sebuah banner besar bertuliskan “Ujian Kenaikan Tingkat Ayodyapala”. Rupanya anak-anak ini sedang menghadapi ujian tari.

Aku terduduk menyaksikan bocah-bocah tadi. Di panggung, mereka kelihatan mahir betul melenggak-lenggokkan tarian daerah khas Indonesia. Senyumku tak berhenti mengembang.

tari
(wah, lucunyaa…)

melorot
(eh, ada yang melorot selendangnya. jangan nangis ya, adek..)

Pasalnya, bila kita ingat masa kini, tentu banyak dari kita yang mengelus dada melihat muda-mudi Indonesia lebih mencintai budaya Barat. Gaya hidup mereka mayoritas diadopsi dari kultur Eropa, Amerika, serta negara-negara maju lainnya. Berondongan budaya Barat ini tentunya sedikit demi sedikit mengikis kecintaan generasi muda Indonesia akan budaya aslinya. Jika ini terus terjadi, Indonesia akan kehilangan identitas sebagai sebuah entitas kebangsaan, karena homogenisasi budaya itu telah menyeragamkan ciri, mengeliminasi kekhasan Indonesia. Kita tak pernah berharap ini terjadi. Namun, bila kita hanya terus menerus menggantung harap tanpa melaksanakan aksi riil, dalam hematku, juga percuma.

Karena itulah kebanggaanku muncul kala memandang adik-adik kecil ini dengan lihai menarikan tarian-tarian khas Indonesia, semisal tari Ondel-ondel dari Betawi. Dentum musik yang melatari tarian mereka pun sungguh menyejukkan. Kesejukan yang menghinggapiku ini menyeretku masuk ke dalam lorong waktu. Berjalan mundur menapaki jejak-jejak peristiwa yang terekam apik dalam memori otakku sampai tibaku pada masa kecilku.

Aku merindukan teman-teman TK ku. Aku ingat betul, kami dulu juga pernah diajari menari. Menari dengan bendera. Aku tak tahu pasti namanya, yang jelas aku pernah belajar menari bersama teman-teman TK ku. Aku pun masih ingat, di kala ulang tahunku yang kelima, teman-temanku bersedia menari untukku di pelataran TK ku. Oh, terlalu indah untuk dilupakan.

Alunan musik tradisional ini juga sukses menghanyutkanku dalam sungai-sungai fantasi yang tenang dan tak beriak. Di kepalaku, segera terproyeksi tari-tari ini dikagumi masyarakat dunia. Bahkan, tari-tari ini menggeser popularitas tari-tari sejenis pole dancing maupun tari-tarian yang mengumbar sensualitas khas Barat lainnya. Indonesia menjadi panutan budaya. Indonesia menjadi pusat kemajuan dengan tradisionalitas dan orisinalitasnya.  Lebih-lebih, dalam bayanganku, Indonesia berhasil menyisihkan Amerika menjadi negara adidaya. Oh, mimpi-mimpi fantastis yang terlalu indah diwujudkan, namun semoga saja bisa (kapanpun).

Aku terpana, sambil terus terhanyut dalam harmoni Indonesia. Betapa cintanya aku pada tanah airku ini. Kuresapi dan kuresapi lagi. Kecintaanku tak akan pernah putus pada Indonesia. Aku janji. Aku ingin membuat perbedaan dengan menginspirasi cinta pada budaya Indonesia di kalangan muda. Semoga aku bisa. Semoga aku tidak menyerah di tengah atau kapanpun. Aku ingin impianku terwujud. Melihat sosok Indonesia yang adidaya dengan budaya. Yang juga kaya karena budaya.

Puas menonton, aku beranjak ke perpustakaan pusat, tujuan awalku, untuk segera mengumpulkan bahan essay-ku. Perasaan lega meliputi setiap langkahku. Perasaan bangga senantiasa membekas dalam ingatanku pada adik-adik itu. Kini, aku terduduk sambil memanjat doa.

“Ya Allah, tumbuhkan tunas bangsa Indonesia yang masih hijau itu menjadi pohon besar perkasa yang menjadikan Indonesia adidaya. Bukakanlah hati mereka, agar tetap jatuh cinta pada warisan budaya nenek moyang mereka. Buatlah mereka terdekap hangat dalam pelukan cinta Indonesia. Aku siap melihat mereka tumbuh besar. Aku siap melihat mimpi ekstrimku terwujud. Semoga, Ya Allah. Amin.”