Tags

, , ,

Tanggal 12 Juni lalu telah menjadi hari yang mendebarkan bagi hampir seluruh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang berstatus aktif pada semester genap tahun ini. Pada hari itu, nilai akhir seluruh mata kuliah dijadwalkan keluar seluruhnya. Tak pelak, kerumunan mahasiswa tampak sibuk memadati ruang laboratorium komputer fakultas, warung internet, maupun bergerombol di selasar-selasar fakultas membawa komputer jinjing guna berselancar membuka alamat yang sama (http://academic.ui.ac.id – SIAK NG) untuk mengecek nilai akhir.

siak ng

Aku termasuk salah seorang yang jantungnya berdegup kencang hari itu. Pasalnya, pada semester berjalan kali ini, aku tak merasa sudah mencurahkan kemampuanku sampai batas maksimal. Jadi, bisa dibayangkan sendiri bagaimana ricuhnya perasaanku kala itu.

Sebelum melangkah pada babak kisah berikutnya, aku jelaskan dahulu secara singkat tentang SIAK NG. SIAK NG memiliki kepanjangan Sistem Informasi AKademik Next Generation. Sistem ini ialah sistem informasi mutakhir kepunyaan UI, yang memungkinkan mahasiswanya melihat nilai akhirnya lewat jaringan internet, kapanpun di manapun. Selain itu, sistem ini lazim juga digunakan untuk registrasi mata kuliah pada awal semester, mengecek jadwal perkuliahan, jadwal ujian, maupun jadwal sidang. Intinya, sistem ini diciptakan UI untuk mempermudah mahasiswanya mengurus serta memantau kondisi akademisnya.

***

Saat itu pukul 15.20 ketika aku duduk di sebuah sudut di MBRC (Miriam Budiardjo Resource Center, Perpustakaan FISIP UI). Tiap detik, aku terus mer-refresh SIAK NG-ku. Yang sudah keluar nilainya hanya tiga mata kuliah saja. Sungguh hatiku tak menentu saat itu.

Sebagai informasi, aku mengambil delapan mata kuliah dengan jumlah 23 SKS semester ini. Kedelapan mata kuliah tersebut antara lain, MPK Bahasa Inggris; Sistem Politik Indonesia; Sistem Sosial Indonesia; Sejarah Indonesia; Teori Komunikasi; Psikologi Komunikasi; Dasar-dasar Penulisan; dan MPK Agama Islam. Tujuh mata kuliah yang kusebutkan di awal berbobot 3 SKS. Sedangkan MPK Agama Islam hanya memiliki bobot 2 SKS. Tiga mata kuliah yang sudah keluar nilainya ialah MPK Agama Islam, MPK Bahasa Inggris, dan Sejarah Indonesia.

Dengan jumlah SKS dan mata kuliah yang begitu banyak, dapat dibayangkan betapa padatnya hari-hari kuliahku. Tapi, kendati demikian aku masih bersyukur. Mengapa? Karena kudengar dari tetangga kamar selorongku yang kebetulan anak FE, dia mengatakan, bila di FE mengambil 21 SKS saja rasanya sudah setengah mati. Jadwalnya sungguh padat, melebihi jadwalku. Hal ini dikarenakan, di FE, semua mata kuliahnya ada program asistensinya. Maka dari itu, mereka tak bisa bernafas bebas setiap harinya.

Kembali padaku lagi, sepuluh menit aku refresh SIAK NG masih belum menunjukkan tanda-tanda nilai muncul. Aku mencoba bersabar sembari terus diliputi perasaan gundah. Aku tekan F5 lagi, dan hap!

Tiba-tiba pada kolom Psikologi Komunikasi dari status ‘Empty’ berubah menjadi ‘Not published’. Maksudnya, untuk mata kuliah Psikologi Komunikasi sebenarnya sudah ada nilainya, namun masih belum dipublikasikan oleh dosen yang bersangkutan. Aku mulai gemetar lagi. Mengingat-ingat kembali paper akhir Psikom-ku yang kuberi judul “Mengamati Gejala Virtual Nationalism: Sebuah Kajian Psikologis Terhadap Seorang Anggota Forum Internet Indonesia VS Malaysia Sebagai Integral dari Kelompok Dunia Maya”. Aku rasa, paper itu masih belum terlalu baik karena proses pengerjaannya yang kurang terjadwal dan terkesan tergesa-gesa. Semakin mengingatnya, ternyata semakin terpacu pula kelenjar keringatku men-ekskresi-kan lelehan keringat dingin yang kian membasahi dahiku.

Lima menit kemudian aku kembali me-refresh. Nilainya muncul!

Alhamdulillah, aku mendapat nilai sempurna alias A. Kontan kuucap hamdalah segera setelah melihat nilai Psikom-ku. Oh ya, tiga mata kuliah sebelumnya belum aku sebutkan dapat nilai apa. Secara berturut-turut, nilai MPK Agama, Sejarah Indonesia, dan MPK Bahasa Inggris adalah A, A, dan A-. Sedih mengingat MPK Bahasa Inggris itu. Salah satu dari dua dosen yang memfasilitasi kelasku berujar, “nilai tugas Anda, maksimal saya beri 80.” Di sisi lain, dosen satunya terkenal sangat perfeksionis. Dari situ aku sudah punya gambaran, bagaimana nasib nilaiku ke depan. Tambahan informasi saja, di UI, untuk mata kuliah universitas semacam itu, standar nilainya sedikit agak ‘ramah’. A sudah bisa diperoleh pada kisaran nilai 86-100. Untuk 80-85,9 harus puas dengan A-. B+ khusus dinobatkan pada mahasiswa yang nilai akhirnya bertengger pada rentangan 75-79,9. Begitu seterusnya sampai batas akhir E. Mahasiswa dinyatakan lulus, bila nilai akhir di atas C- (kisaran 56-59,5 untuk range ini). Bentang nilai itu dipergunakan hanya untuk mata kuliah fakultas semisal MPK Bahasa Inggris, MPK Agama, MPK Seni dan Olahraga, dan MPKT (serupa dengan PPKn).

Beda urusannya bilamana memperbincangkan range nilai untuk mata kuliah fakultas dan jurusan. Di FISIP, umumnya A diraih bila nilai akhir melebihi atau sama dengan 90. Pada hierarki bawahnya polanya masih sama. Jadi, bisa disimpulkan pula, mendapat nilai A untuk mata kuliah fakultas dan jurusan adalah hal yang sangat menggembirakan!

Tak heran, sesaat kebahagiaan membuncah menyusupi sel-sel syarafku, membuat hatiku berjingkat dalam arenanya di pelukan relungku. Namun, itu hanya sesaat. Nilaiku belum keluar sepenuhnya, masih ada empat mata kuliah lagi yang harus ditunggu.

Aku refresh sekali lagi halaman ‘Riwayat’ SIAK NG-ku. ‘Not Published’ kembali muncul. Kali ini sejajar di kolom Teori Komunikasi. Damn!

Teori Komunikasi (Tekom) terkenal sebagai mata kuliah maut bagi mahasiswa komunikasi. Pada mata kuliah ini dipelajari secara mendalam teori-teori yang menjelaskan proses sosial komunikasi dalam berbagai level ataupun konteks. Mulai dari komunikasi diri (intrapersonal), komunikasi dua orang (interpersonal), komunikasi kelompok, organisasi, publik, media, juga kultur dan keberagaman. Sebenarnya, semuanya menarik. Dengan mempelajarinya, aku merasa semakin sadar akan diriku. Akan peristiwa-peristiwa sosial yang ada di sekelilingku. Teori pun membantuku menganalisis pengamatanku. Aku awalnya optimistis ketika mengetahui nilai UTS-ku 90. Alhamdulillah, menjadi yang tertinggi seangkatan (narsis sedikit ya J). Tetapi, bilamana kuingat kata-kata Mbak Oni, salah seorang dosen Tekom, usai UAS kemarin, aku sedikit terpukul. Pasalnya, beliau mengatakan, aku analisis dengan teori yang keliru. Die!

Akan tetapi, Tuhan melalui SIAK NG berkata lain. Lagi-lagi A muncul pada kolom nilai akhir Teori Komunikasi. Hamdalah lagi-lagi terucap. Sejujurnya, aku tidak menyangka. Tapi apa boleh buat? Syukur harus terus aku haturkan pada Yang Maha Kuasa, atas kasih sayang-Nya pada hamba-Nya yang tak berdaya ini. Aku juga sempat menjerit. Namun tak bisa kencang, alhasil suaranya tertahan. Ini karena aku sadar aku ada di perpustakaan.

“Haaaaaaaaaa…ikkk!” begitu kira-kira jeritanku yang tertahan.

Mbak-mbak di sebelahku sempat menoleh padaku. Lalu dia tersenyum. Tampaknya dia tahu kegiatan apa yang sedang aku lakukan.

Emosiku begitu meluap-luap. Aku bingung harus melakukan apa. Aku batuk-batuk. Begitulah reaksi tubuhku ketika mendengar berita sangat menggembirakan. Akhirnya, kuputuskan pergi ke Musholla untuk menunaikan sholat Ashar sekalian mengucap syukur berkali-kali, langsung di kediaman-Nya. Alhamdulillahirobbilalamiin.

Aku kembali pada kegiatanku selesai sholat kutunaikan dan doa kupanjatkan. Kubuka kembali SIAK NG. Kali ini Sistem Politik Indonesia yang tampak sudah muncul nilainya. Oh my God, A lagi! Sungguh, aku benar-benar bingung harus bersyukur dengan cara apalagi. Betapa bahagianya aku. Ohh…

Rupanya, kebahagiaan dan kegembiraan masih terus meliputiku hari itu. Sorenya, sekitar pukul 18.00, aku buka kembali SIAK NG. Kali ini bukan di kampus, melainkan di warnet asrama. Nilai Sistem Sosial Indonesia telah muncul dan senangnya aku mendapat A sekali lagi. Subhanallah.

Untuk mata kuliah ini memang aku prediksikan mendapat A. Dengan melihat nilai kuis rutin setiap minggu yang aku peroleh juga mempertimbangkan nilai UTS lalu, aku sudah bisa memprediksikan nilai akhirku. Ternyata dugaanku tak meleset dan aku SENANG!

Kini, tinggal satu mata kuliah lagi, Dasar-dasar Penulisan (DDP). Statusnya memang sudah ‘Not published’ dari tadi sore. Namun, sampai pukul 19.30, nilai akhirnya belum juga dipublikasikan. Aku khawatir.

Kekhawatiranku beralasan. Penyebabnya, dari dua kuis yang pernah dilaksanakan di kelas, aku pernah mendapat nilai 65. Untungnya pada kuis yang kedua, aku bisa mematahkan kegagalan sebelumnya dan mendapat nilai 90. Rumor soal dosen pengajar kelasku yang pelit pun santer terdengar  dari para senior. Mereka umumnya berkata, dosen DDP-ku ini (tak perlu kusebutkan namanya) maksimal memberikan nilai hanya B+. Mengingat keduanya, aku hanya bisa pasrah. Tapi, di sisi lain, aku masih optimis, setidaknya untuk sebuah A-. Aku terus berdoa.

Malam itu, aku kembali ke warnet pukul 23.00 lalu mengecek kembali update nilai SIAK NG. Ternyata masih nihil. Nilai DDP masih tetap dengan status sebelumnya, ‘Not published’. Karena cemas, sebelumnya aku mengirim pesan singkat pada dosenku itu menanyakan perihal nilai akhirku. Namun, sebelum balasannya masuk ke handphone-ku, baterai handphone-ku lebih dahulu drop. Aku pasrah.

Tiba-tiba di sela-sela pikiranku terselip selentingan intrapersonal yang datangnya tak tahu dari mana. Selentingan itu menyarankan supaya aku bersabar menunggu sampai pukul 00.00 tepat. Anehnya, aku menyetujui selentingan itu dan meneruskan penantianku.

Tik tok tik tok… dongg…

Layar handphone tuaku kini menunjukkan pukul 00.00 tepat, aku segera me-refresh. Alhamdulillah sudah keluar. Akan tetapi, tak sebagus sebelum-sebelumnya, aku hanya mendapat A- untuk mata kuliah DDP. Namun di sisi lain aku sangat bersyukur karena targetku terpenuhi untuk mata kuliah ini.

riwayat

Kalau di rangkum, semester ini aku mendapat 6 nilai A dan 2 nilai A-. Semester sebelumnya tak jauh beda, aku mendapat 2 nilai A- dan 4 nilai A. Kalau dikalkulasi, IP semester ini aku dapat 3,92; sedangkan IPK masih tetap bercokol pada angka 3,91. Cukup menggembirakan!

ringkasan

Sehari setelah SIAK NG Day ini aku bertanya pada teman-temanku mengenai hasil belajar mereka semester ini. Ternyata mayoritas dari mereka banyak yang menyatakan bila semester dua ini nilai mereka turun.

Seorang temanku sejurusan, Ruth Retno Dewi, yang kemarin menduduki peringkat 1 IP dan IPK jurusan Ilmu Komunikasi (3,95) pun mengaku, IP nya turun hingga kisaran 3,7-an. Beberapa lainnya malah lebih memprihatinkan. Ada yang mengatakan IP nya terjun bebas dari rentang 3,00 ke atas menjadi di bawah 3,00.  Kendati demikian, Even Apillyadi, seorang temanku yang lain dari jurusan Ilmu Politik mengungkapkan, IP-nya naik semester ini.

“IP saya naik dari 3,6-an menjadi 3,75. IPK saya juga naik. Sekarang menjadi 3,69”

Hikmah yang bisa aku petik dari ini semua, janganlah cepat puas dengan apa yang kita dapatkan sekarang, namun jangan pula lupa untuk mensyukuri apa yang kita dapat. Introspeksi ialah hal yang mutlak perlu kita lakukan supaya kita semua bisa menjelang hari esok yang lebih gemilang. Terakhir, teruslah bersemangat menghadapi hidup dengan selimut optimisme mendekap erat diri kita.

Salam,

Gilang Reffi Hernanda