Tags

, ,

sceptical

Mungkin, kini aku sedang berada di puncak skeptisisme dan pesimisme terhadap Indonesia dan pemerintahannya. Perasaanku telah teramat dikecewakan oleh pemandangan-pemandangan miris dan memilukan yang terpampang terlampau jelas di sekujur tubuh Indonesia. Pemandangan menyayat terakhir kusaksikan semalam, ketika aku menumpang di kamar temanku untuk menonton televisi. Kebetulan, MetroTV yang dipilih memancar.

Dikisahkan selama enam puluh menit-an, betapa terpuruknya kehidupan warga Indonesia di perbatasan. Terlihat dengan sangat jelas gambaran kontras dan disparitas yang menganga antara penduduk Indonesia dan Malaysia. Di Malaysia, tepatnya di negara bagian Kucing, tampak modernisasi sudah menjamah. Bangunan-bangunan tinggi, pasar bersih yang ramai, serta keadaan fisik infrastruktur yang amat tertata seolah menegaskan, Kucing telah berada di tahun 2009. Sedangkan situasi terbelakang, melarat, dan penuh kesengsaraan masih terasa sangat mencolok di perbatasan darat Indonesia, di Pontianak. Dalam narasinya, dikatakan dengan jumlah penduduk yang hampir setara, kondisi kehidupan masyarakat Pontianak sangat jauh tertinggal bila dibandingkan dengan Kucing. Jalan-jalan rusak, tak beraspal, dan liat; rumah-rumah kayu beratap seng yang bercokol penuh nelangsa; juga pasar tradisional kumuh yang memprihatinkan, tertangkap kamera tanpa distorsi maupun manipulasi barang secuilpun. Melihat itu semua, aku hanya mampu mengelus dada. Sesungguhnya, aku muak hanya menyaksikan realita-realita itu. Tapi, rasa muak, skeptis, dan pesimisku yang memuncak, mencapai ubun-ubunku, membuatku buntu. Tak tahu harus berbuat apa.

Ketika disorot beberapa wajah TKI yang mengais rezeki di Malaysia, hatiku tersentuh. Mereka diwawancara. Ditanya tentang kesediaan mereka berperang dan alasan mengapa masih mau menjadi WNI.

“Saya mau terlibat mempertahankan Indonesia, termasuk dalam perang, karena saya CINTA Indonesia.”

Begitu kira-kira pernyataan salah seorang TKI laki-laki. TKI lain menjawab, “Yah, kalo masalah kerja emang kita ikut Malaysia, tapi kalo ditanya lebih milih jadi warga negara Indonesia atau Malaysia, saya pilih Indonesia.”

Astaga. Hatiku menangis mendengarnya. Aku berpikir, jika bukan orang yang punya kesabaran tinggi atau orang yang cintanya benar-benar tulus, pasti orang tersebut sudah meloncat berpindah kewarganegaraan. Sementara itu, bila kita lihat panggung politik Indonesia sekarang, semua sedang ribut ‘mendandani’ diri sendiri dengan topeng-topeng citra manis supaya bisa berlenggang mengepalai Indonesia lima tahun ke depan. Visi politik Indonesia hanya itu. Menjadi presiden dan berkuasa. Masalah-masalah pelik yang nyata-nyata mengemuka terabai dengan mudah. Ataupun jika tersentuh, pasti kental sekali nuansa politisnya. Semua hanya untuk kepentingan pragmatis.

Padahal, bilamana kita ingat definisi politik, rasanya sungguh mulia. Miriam Budiardjo merangkum, politik dapat diartikan sebagai ‘bermacam-macam kegiatan dalamn suatu sistem politik (atau negara) yang menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu’ (2004: 8). Tujuan dalam terminologi ini merepresentasikan kesejahteraan rakyat. Sedangkan dalam paradigma klasik, Aristoteles memandang politik sebagai ‘suatu asosiasi warga negara yang berfungsi membicarakan dan menyelenggarakan hal ihwal yang menyangkut kebaikan bersama seluruh anggota masyarakat’ (dalam Surbakti, 1992: 2). Perhatikan kalimat di atas. Secara eksplisit terungkap, politik itu tak lain merupakan kegiatan yang bertujuan membicarakan dan menyelenggarakan segala hal yang menyangkut kebaikan bersama. Kalau kita lihat sekarang, apakah politik Indonesia masih memperhatikan kebaikan bersama seluruh anggota masyarakat? (Silahkan jawab masing-masing, namun kalau saya harus menjawab, dalam hemat saya, saya harus mengatakan tidak). Menanggapi hal ini, Triyono Lukmantoro, seorang dosen FISIP UNDIP, dalam artikel opininya yang dimuat Kompas, 14 Mei 2009 lalu mengatakan, politik Indonesia kini mengalami penabloidan. Lukmantoro menganalogikan situasi politik dengan spektrum ragam media. Dan politik Indonesia sekarang, menurut Lukmantoro, berposisi pada spektrum tabloid, yang menggusur poros serius dan memojokkannya dengan prioritasisasi visibilitas problem privat juga skandal.

Pertanyaan yang tersisa sekarang, mengapa kita masih mau mengakui diri kita semua sebagai seorang BANGSA INDONESIA? Padahal, sudah terlampau sering kita dikecewakan. Suara-suara yang diartikulasikan hampir tak pernah dianggap oleh para elit. Lalu, apalagi yang kita banggakan dari Indonesia? Kesengsaraannya? Korupsinya? Budayanya yang satu per satu dicomot asing? Elit pemerintahannya yang gemuk-gemuk itu? Atau bahasanya yang lambat laun terkikis?

Kalau jawabannya bukan itu, lalu apa sebenarnya yang membuat kita masih sudi menjadi BANGSA INDONESIA?

Tak terbersit sama sekali di benakku untuk memprovokasi atau mengajak para pembaca sekalian agar setuju pada gerakan-gerakan separatis. Yang terpikir sekarang malah, bagaimana caranya merealisasikan Indonesia yang lebih baik lagi. Kita awali dengan refleksi dan kontemplasi atas sebuah pertanyaan tentang hakikat berbangsa.

Pikirkanlah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

  1. Benarkah kita merupakan suatu bangsa? Apakah bangsa itu?
  2. Apakah ada alasan yang sah untuk membangun suatu negara?
  3. Bentuk negara seperti apa yang cocok bagi bangsa ini?
  4. Apakah ada nilai maupun norma dasar yang kita sepakati bersama, sehingga kita berbangsa Indonesia?
  5. Apakah ada rasa identitas dan cita-cita yang sama?”

Jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara personal, kemudian pikirkan bagaimana kita bisa membangkitkan Indonesia dari keterpurukan ini. Mari berdiskusi!


i luv ina

Referensi

Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992.

Lukmantoro, Triyono. “Fenomena Penabloidan Politik”. Kompas, 14 Mei, 2009. Hal. 6.