Tanggal 31 Mei silam merupakan peringatan Hari Tanpa Tembakau se-Dunia. Banyak aksi damai yang dilakukan berbagai pihak guna menghentikan kegiatan merokok yang merusak kesehatan manusia ini, tepat pada tanggal tersebut maupun pada jauh hari sebelumnya. Hasbullah Thabrany, seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), misalnya, pada kesempatan khutbah Jumat (22/5) lalu, telah memulai aksi menolak rokok melalui substansi khutbah yang disampaikannya kala itu.

Khutbah yang diberi judul “Merokok: Perbuatan Haram, Mubazir, dan Merusak Manusia” itu disyi’arkan Thabrany di depan jamaah Jumat Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia. Khutbah tersebut dibuka dengan menguak pelajaran cost-benefit klasik, dengan menyitir Ayat Al-Quran (QS 2: 219) tentang khamar (minuman keras). Disebutkan, dosa yang terkandung dalam khamar lebih besar ketimbang manfaat yang dapat dipetik darinya. Karena itu, mengonsumsi khamar haram hukumnya. Lalu bagaimana dengan rokok?

Pada bagian berikutnya, Thabrany membedah perdebatan yang kerap muncul mengenai rokok. Paling awal, dibahas argumen dari perokok Indonesia yang menyebut rokok sebagai bagian integral budaya Indonesia. Argumen ini salah sama sekali. Pada kenyataannya, tembakau yang kemudian diolah menjadi rokok ini ialah barang bawaan Belanda. Bukan otentik asal Indonesia. Bisa disimpulkan pula, rokok bukan kebudayaan Indonesia.

Argumen lain yang acapkali menjadi payung justifikasi perokok ialah hukum merokok yang makruh. Dengan kata lain, merokok masih boleh dilakukan. Namun, tidak ada sesuatu yang stagnan. Pendapat tersebut rupanya terbatas dalam hal konteks waktu. Seiring majunya IPTEK, ditemukan pula kenyataan betapa berbahayanya substansi rokok. Kini, diketahui terdapat 2.500 bahan berbahaya dalam rokok dan asap rokok. Bahan-bahan tersebut antara lain kadmium, asam stearat, amonia, dan lain sebagainya seperti tampak pada gambar di bawah.

rokok

Lihat! Terutama bagi para perokok, apa yang sebenarnya Anda sekalian hirup. Masih berniat terus merokok? Sampai paru-paru Anda menyerupai ini?

paru2

Ekses negatif rokok lainnya, dapat menyebabkan kanker mulut. Kalau sudah begitu, Anda tidak akan bisa lagi menikmati sedapnya makanan mama atau isteri di rumah atau nikmat Tuhan Yang Maha Esa yang lain. Masih berminat? (lagi-lagi), semua kembali pada Anda pribadi.

Fakta lainnya, di berbagai negara, cukai rokok dibebankan sangat tinggi. Alasannya, supaya masyarakatnya tidak merokok. Lebih-lebih, Amerika Serikat sudah melarang impor kretek ke negaranya. Mengapa? Tak lain karena mereka sudah menyadari bahaya rokok. Coba renungkan! masyarakat maju di Amerika saja tidak merokok, masa kita yang melulu ingin dibilang maju masih merokok? Kalau begitu, boleh dibilang kalau kita (khususnya para perokok) ini wong ndeso.

Terlepas dari itu semua, Thabrany juga menyebutkan, nilai sebatang rokok itu setara dengan harga dua butir telur. Kedua benda ini bertolak belakang dari sisi manfaat. Telur memiliki manifestasi menyehatkan tubuh dan mencerdaskan dengan kandungan proteinnya. Namun rokok, dengan segala bahan yang terkandung di dalamnya, berfungsi laten yang bersifat akumulatif, mempercepat kematian manusia.

Selain bahaya fisik rokok yang tampil eksplisit tersebut, rokok pun, secara terselubung, berbahaya bagi ekonomi negara. Sekali lagi kita ambil Amerika sebagai contoh. Pada tahun 1990, dari catatan Bank Dunia, pemerintah AS mengeluarkan harus dana sebesar 52.338 juta dolar tiap tahun untuk biaya oleh penyakit akibat rokok. Rinciannya, 23.653 juta untuk pengobatan, 28.061 juta untuk biaya produktivitas kerja yang menurunn karena sakit dan meninggal, serta 623 juta sisanya ditujukan bagi kematian tidak langsung pada anak-anak.

Sekarang, mari kita toleh Indonesia. Ternyata, tingkat konsumsi rokok kita sudah mencapai angka 231 milyar batang rokok. Rokok Indonesia juga telah membunuh 750.000 jiwa pertahunnya sejak 2002. Kerugian ekonomis yang menjangkiti Indonesia akibat rokok ini pun, melesat hingga mencapai lebih dari 20 triliun rupiah pertahun. Kalau dirupiahkan, jumlah uang yang ‘dibakar’ pertahunnya setara dengan 150 triliun rupiah. Dengan jumlah tersebut, menurut Thabrany, bisa digunakan membiayai 300.000 orang sekolah Doktor (S3) dengan alokasi Rp 500 juta tiap mahasiswanya. Atau, 4-5 juta orang dapat diberangkatkan haji dengan jumlah itu. Manfaat uang lebih terasa pada keduanya, ketimbang hanya habis dibakar. Lalu, apalagi alasan yang menghambat (para perokok) berhenti merokok?

“Kasihan dong petani tembakaunya?”

Untuk alasan tersebut, LP3ES (2008) punya faktanya. Petani, yang mengandalkan tanahnya untuk bertanam tembakau hanya menerima laba Rp 694.000 per hektar. Angka ini jauh jika dibandingkan bila mereka menanam jagung dan beras, yang berturut-turut laba per hektarnya ialah Rp 1,81 juta dan 3,77 juta.

Memang, masih ada resiko yang dialami sebagian penduduk jika bisnis rokok menurun. Tapi, sebagian itu hanya merepresentasikan kurang dari sejuta orang penduduk Indonesia. Namun di lain pihak, lebih dari 220 juta penduduk Indonesia bisa terhindar dari resiko boros dan sakit-sakitan. Pertanyaannya kini, kita berpihak pada siapa?

Sudah saatnya berhenti merokok. Berkomitmenlah dengan diri sendiri (khususnya bagi para perokok) untuk berhenti menjadi pembunuh di balik selimut baik bagi diri sendiri maupun bagi orang di sekitar Anda. Marilah berinvestasi untuk kemajuan Indonesia dengan tidak merokok. Melongoklah pada kondisi pendidikan Indonesia sekarang, dan pertimbangkan masak-masak angka yang terpapar di atas dalam memilih untuk merokok atau tidak. Saya pribadi percaya, Indonesia bisa maju tanpa rokok. Mari bersama-sama kita matikan rokok dan buang puntungnya jauh-jauh, kemudian kita songsong cerahnya masa depan yang kian menjelang.


Bagi yang mau slide khutbah Jumat Bapak Hasbullah Thabrany, silahkan klik di sini