Tags

, , , ,

interview

Seperti yang aku kabarkan pada postingan sebelumnya, Senin (8/6) kemarin merupakan hari interviewku. Interview ini ialah tahapan terakhir dari serangkaian tes yang disyaratkan Tanoto Foundation guna menyeleksi generasi muda Indonesia berkualitas untuk mendapat beasiswa pendidikan. Beginilah kira-kira kronologis kisah interviewku kemarin.

***

Pukul 13.15 tepat aku tiba di venue wawancara, yang pada kesempatan ini bertempat di gedung B Fasilkom UI lantai 3, bersama Even Apillyadi, temanku sekaligus salah satu applicant beasiswa, dan Setiaji Wibowo . Sebenarnya, sesuai jadwal, interviewku akan dilangsungkan pukul 16.30. Namun, karena rasa ingin tahuku begitu mendesak, akhirnya kuputuskan hadir lebih pagi dengan harapan bisa membayangkan pertanyaan apa yang kira-kira disodorkan oleh interviewer dari Even, yang kebetulan mendapat jatah lebih awal (pukul 13.30).

Setibanya di sana, seorang mendekat dan bertanya, “Tanoto ya…?”

Kalau pertanyaan tersebut konteksnya menanyakan nama, maka jawabannya tidak. Akan tetapi, karena kita tahu konteks pemaknaan pertanyaan itu, aku dan Even langsung menjawab, “Iya, Mbak.”

Kemudian kami digiring ke sebuah kursi yang terletak pada satu pojok lingkup ruang di sana. Mbak-mbak tadi lalu menyodori aku dan Even masing-masing dua lembar kertas.

“Itu diisi dulu ya sebelum masuk interview,” perintahnya.

“Siap, Mbak,” sahutku spontan.

Kami segera mencari ruang yang agak lowong untuk mengisi pertanyaan dalam dua kertas tersebut. Secara umum, formulir itu menanyakan basis data akademis dan demografis saja. Meliputi nama lengkap, semester, jurusan, IPK, keluarga, biaya hidup per-bulan, analisis SWOT, dan hobi. Aku dapat menyelesaikannya dengan lancar.

Layar kusam handphone Sony Ericsson K600-ku menunjukkan pukul 13.28. Seorang mahasiswi keluar dari seberang sudut tempat kami. Even masih belum sadar kalau ini gilirannya. Sampai Mbak-mbak tadi datang, dan bertanya pada gerombolan kami.

“Ada yang namanya Even (dibaca dengan pronounciation vocab Bahasa Inggris, yang bila di-Indonesia-kan berarti ‘bahkan’) di sini?”

“Oh, Even (baca: efen; e pertama divokalkan sama dengan e pada kata ‘bebek’, huruf v dibaca seperti f, dan e kedua disuarakan identik dengan e pada ‘penat’), ini dia, Mbak,” jawabku seraya menunjuk Even yang duduk di sampingku.

“Ayo masuk, ini giliran kamu,” imbuh Mbak itu dengan nada membuat tergesa.

“Oh, ya ya, Mbak,” tukas Even langsung bergegas.

Even masuk. Sangat lama. Aku menunggu, tak sabar mendengar ceritanya.

Tiga perempat jam berikutnya, si Kokoh Cina, begitu panggilan akrab Even, keluar. Dia tersenyum.

“Ada apa gerangan?” tanyaku dalam hati.

Even langsung berseloroh dari A sampai Z tanpa diperintah. Semangatnya memancar dari setiap nafas yang menggetarkan pita suaranya. Dari kira-kira lima belas menita dia bercerita, dia merangkum interview dan interviewernya.

“Gila! Nyeremin abis.”

God! aku makin gemetar. Di kala makan usai wawancara, otakku terus meraba-raba, menyusun ceceran kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang siapa tahu sama. Perasaanku tak karuan. Sumpah. Ini pengalaman interview beasiswa yang pertama.

Kulompat kisahku sampai derap-derap langkah kutapakkan masuk ke ruang interview. Hap. Satu kakiku melampaui bibir pintu. Aku masuk dunia lain. Hawanya mencekam. Sesosok wanita paruh baya berkemeja biru muda berkacamata duduk manis di tengah arena. Guntingan rambutnya yang pendek layaknya lelaki, semakin mengesankan ketegasan jiwanya. Matanya tajam, merajam sampai putus urat beraniku. Aku menciut seperti kerupuk tersiram air. Tapi, dengan penuh usaha, masih kukembangkan senyumku.

“Selamatn sore, Mbak.”

Kusapa dia seraya menyerahkan dua lembar formulir yang telah kukerjakan di luar tadi.

Dia menyahut, “Sore, Gilang ya? Silahkan duduk di sana!” sambil menunjuk sebuah bangku yang terletak di radius sekitar satu meter dari tempatnya duduk.

Aku hanya sanggup mengangguk. Kuturuti kata-katanya. Lalu, pertanyaan pertama terlontar.

“Hmm, 3,91 ya IP kamu? Bagus, target semester ini naik atau turun?”

“Insya Allah naik, Mbak.”

“Berapa?”

“Target saya 3,95,” aku menjawab setengah tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri.

“Hah? tipis banget naiknya.” Suasana mulai memanas.

“I..iya, Mbak. Pelajaran dan dosennya semakin sulit, jadi saya hanya targetkan angka segitu.”

Dia mencerca kembali. Dia bilang, memang sudah seharusnya, semakin tua semester, pelajarannya semakin susah. Kalau tidak mau susah, kembali saja ke TK lagi, sarannya dengan nada sedikit mengintimidasi.

Beralih ke pertanyaan kedua, sekarang dia bertanya tentang jurusanku, Ilmu Komunikasi.

“Komunikasi belajar apa sih?”

Aku menjabarkan ini-itu. Mulai definisi komunikasi, perkembangan definisi yang beragam, teori-teori komunikasi dalam berbagai level, sampai public speaking. Dia mendengar dengan seksama. Matanya memproyeksikan setengah ketertarikan dan kebosanan. Dia bertanya lagi.

“Terus, kamu mau jadi apa?”

“Cita-cita maksudnya, Mbak? Hmm.. saya punya dua. Jangka pendek dan jangka panjang,” kemudian kuhela nafas sebentar lalu kulanjutkan.

“Jangka pendeknya, saya punya beberapa cita-cita. Pertama, saya ingin menjadi seorang analis media atau Public Relation. Kedua, karena saya mahasiswa komunikasi yang juga belajar dasar-dasar penulisan, saya sangat ingin tulisan saya dimuat di media massa dan dibaca orang se-Indonesia.”

Matanya bersinar, kelihatan terpukau. Aku melanjutkan kembali jawabanku yang terpotong.

“Kalau jangka panjangnya, suatu hari nanti, entah kapan, saya berniat membangun sebuah perusahaan yang berbasis industri kreatif.”

Matanya berubah, dahinya mengerut. Dia mendesakku menjelaskan secara gamblang, apa industri kreatif yang aku maksudkan. Kujelaskan saja, mungkin aku akan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan voucher elektronik, tapi yang besar. Super besar.

Dengan cepat, kami kembali beralih pertanyaan. Kini dia ingin mendengar pendapatku soal insiden Mbak Prita Mulyasari.

“Good!” pikirku.

Mengapa aku begitu girang? tentu saja, karena beberapa jam sebelum wawancara, aku sempat membaca publikasi mengenai kasus Mbak Prita, UU ITE Pasal 27 (3), dan sumpah Hippocrates. Berikut ini ketiga tulisan yang saya baca tersebut.

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif
Prita Mulyasari – suaraPembaca


Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

(msh/msh)

[Source: http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/30/111736/997265/283/rs-omni-dapatkan-pasien-dari-hasil-lab-fiktif%5D

Pasal 27 (3) UU RI No. 11/2008

” Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

[Source: http://triatmono.wordpress.com/2009/06/03/mari-menafsirkan-pasal-27-ayat-3-uu-ite/%5D

Yang ketiga saya cuplik hanya bagian yang saya pakai berargumentasi.

I will use treatment to help the sick according to my ability and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing. neither will I administer a poison to anybody when asked to do so, not will I suggest such a course.

Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah untuk mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan saya memberikan racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal seperti itu.

[Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Hippokrates%5D

Seperempat jam aku mengoceh dengan semangat. Dia mengamati dengan penuh analisa. Seseali kulihat dia mencorat-core di atas formulir yang kuserahkan tadi. Aku masih melenggang dengan ocehan. Intinya aku mengecam OMNI dan mendukung Mbak Prita.

Dia berlanjut, menanyakan alasan mengapa aku memilih Tanoto. Kujawab saja dengan jujur, kukatakan karena beasiswa ini yang pertama kalinya aku tahu di masa perkuliahan. Lalu dia bertanya lagi.

“Emang nggak apply yang lain?”

Aku jawab, “Sebenarnya ada niatan, Mbak. Tapi, karena ada syarat administratif tertentu yang belum bisa saya penuhi, saya urungkan niat saya.”

Dia mengangguk, segera (lagi-lagi) tanya-jawab kita beralih bahasan. Melihat kolom organisasi internal kampus yang saya ikuti, dia lalu minta penjelasan soal EDS UI (English Debating Society UI .red). Kuterangkan padanya, EDS ialah organisasi yang terdiri dari para debator. Program kerjanya, memenangkan sebanyak-banyaknya kejuaraan debat kapapun, dimanapun. Matanya yang dilindungi lensa itu berbinar lagi. Kami berdiskusi singkat. Lalu, tiba-tiba dia menyuruhku speech berbahasa Inggris, merepresentasikan Indonesia. Kebetulan sebelumnya aku bilang, aku berencana mengikuti HNMUN 2010 (Harvard National Model United Nation 2010) di Harvard.

Mampus!

Ya sudahlah, apa daya. Aku segera ber-cas-cis-cus-ces-cos membicarakan masalah Indonesia-Malaysia dan globalisasi yang melahirkan liberalisasi, salah satunya liberalisasi pendidikan. Oh My God, bahkan aku tidak sadar akan apa yang aku omongkan.

Setelah last full stop, dia langsung berseloroh.

“Gilang, to be honest, kalau saya jadi jurinya saya tidak akan memenangkan kamu. Saran saja, dalam berbicara kamu harus ada pointer-nya. Terus, kayaknya kamu ini pengetahuannya kurang luas. Perbanyak membaca, ya!”

Bam~! kalimat-kalimat itu memukul keras perasaanku. Tapi, di sisi lain, aku merasa dia ada benarnya juga. Aku sangat perlu memperluas jendela wawasanku dengan membaca. Ya, MEMBACA! Aku mengamini saran-saran interviewerku yang baru semenit lalu kuketahui bernama Erista.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mengalir biasa saja. Tidak ada yang spesial. Hanya menyangkut biaya hidup perbulan. Namun, di ujung interview ada yang menarik. Melihat daftar hobiku, yang satu di antaranya aku tulis ‘MENYANYI’, dia langsung menyuruhku menyanyi.

Yoohoo. Dengan mantap aku langsung melantun.

“Cintaku bukan cinta biasa, jika kamun yang memiliki

dan kamu yang temaniku seumur hidupku… dst.”

afgan

Crazy me!

Jika mengingat itu, aku selalu ingin tertawa. Mbak Erista pun tersenyum simpul mendengarku. Semoga itu pertanda baik.

Fiuh. Interviewku selesai. Sebelum aku keluar, aku meminta izinnya mengambil permen Mentos yang terhidang di mejaku. Keluarlah aku. Segar kuhirup udara kehidupan setelah tersesat di kandang macan.

Teman, sekarang yang bisa aku lakukan hanya berdoa. Sesuai jadwal, pengumuman nama-nama yang memperoleh beasiswa akan dipublikasikan di website Tanoto Foundation akhir bulan ini. Jadi, aku harap doa kalian tetap beserta denganku. Aku mohon.

Thank you.

Gilang Reffi Hernanda

***

Pichronicle

Before

before

[nice smile]

After



after

[peculiar]