(1/6) – Berkawan temaram bulan cembung, malam ini aku bersama lima sahabat baikku; Titik, Ayu, Tika, Prima, dan Maimun, memulai perjalanan menerobos jalan beraspal berlatar samping hutan untuk mencapai Kukusan Teknik (baca: Kutek). Hari ini merupakan hari ulang tahun sahabat lainku, Jihad, yang tinggal di Kutek. Seperti ritual yang biasa aku dan teman-temanku lakukan, hari ini kami bermaksud mengunjungi tempat kostnya dan memberinya selamat dengan sedikit ‘sentuhan sayang’. Itu pula misi yang kami berenam emban malam ini.

Kuterawang jauh lintasan perjalanan kami yang merentang lumayan lebar dari bibir asrama. Di sepanjang itu hanya tampak tiang lampu raksasa bertangan dua yang menyembulkan cahaya oranye hangat dari merkuri dalam kurungan kaca. Kutapakkan langkahku yang pertama. Kutoleh kanan-kiri berniat mencari kenikmatan perjalanan malam, sembari memasang mata waspada. Lintasan yang terbelah median jalan itu ditemani rerimbunan pohon kayu yang amat tinggi dalam gugus hutan UI di sebelah kiri kami. Di kanan, hanya terlihat pagar besi bercat kuning di belakang semak yang membatasi kawasan UI dengan area di luarnya. Semua tampak aman-aman saja. Udara malam itu tak begitu dingin. Cuacanya pun cerah betul. Purnama konkav bersama beberapa kawan bintangnya tampak kian cantik menggantung di langit 1 Juni. Bau rumput sesekali tercium dibawa hembus angin malam.

Perjalanan menerobos hutan yang pertama terlampaui sekitar tiga puluh menit jalan kaki. Kini kami sampai di hadapan pintu gerbang Kutek. Biar kujelaskan, jangan bayangkan gerbang mewah atau gapura berbodi menawan saat berbicara pintu gerbang Kutek. Imajinasikan saja sebuah pintu kandang marmut berukuran lima atau sepuluh kali lebih besar, nampaknya begitu terasa lebih tepat. Oh ya, lebarnya pun tak muat dijejali tiga orang sekaligus–sempit benar. Yang perlu diketahui juga, pintu gerbang ini besinya tak mencapai tanah. Jadi, ada semacam ruang kecil buat menyelinap masuk ketika gerbang ditutup pukul 22.00. Pada hakikatnya, gerbang ini tak pernah tertutup.

Setapak demi setapak kami berenam menelusur jalan Kutek yang sudah tampak terluka. Kami menuruni jalan melembah, berbelok ke kanan, melangkahi jalan sempit tak berlampu. Gelap sekali waktu itu. Kami terus berjalan menapak ke turunan terjal. Seolah tercengkram gravitasi, jalan kami menjadi cepat secara otomatis. FYI, tidak ada satupun dari kami saat itu yang mengetahui pasti letak kost Jihad. Kami, atas dasar intuisi plus sisa-sisa ingatan omongan Jihad soal lokasi kostnya yang kupunya, berjalan (sedikit) tak berarah. Setelah merasa berjalan jauh namun belum juga mencapai tujuan, kami putuskan berhenti kemudian bertanya pada ibu-ibu di situ. Tapi sebelum itu, kami menelepon teman Jihad terlebih dahulu yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Darinya, kami dapat informasi nama kostnya, Galaksi. Kembali ke ibu-ibu, rupanya beliau tidak terlalu menguasai dengan baik daerah Kutek, jadilah informasi yang kami terima kurang memuaskan. Namun si ibu tak kunjung patah semangat, beliau lalu menanyakan pada entah saudara atau suaminya yang sedang menjaga sebuah warung makan kecil di situ. Barulah kami dapat informasi yang lebih akurat. Agaknya kami sedikit salah melangkah. Bapak-bapak tadi lalu memberitahu kami kalau kami harus mundur sedikit, berjalan ke arah kiri, lurus terus, belok kiri lagi menerasak lapangan rumput gelap dan masjid, menyusur jalan turun ke arah kanan. Ok, kami lakukan sesuai dengan petunjuk bapak tadi.

Uhhh… aku menghela nafas panjang. Pegal juga rasanya berjalan sejauh itu. Tak terasa bulir-bulir keringat telah meleleh membasahi baju Liputan6.com ku. Sebenarnya, selain pegal secara fisik, batinku pun tersiksa. Aku amat terganggu dengan adanya salah satu temanku, tapi aku tidak akan menyebut siapa. Aku benar-benar heran, mengapa belakangan dia suka sekali protes, sangat amat sensitif sekali, dan emosional. Padahal, saat awal pertemuan dulu, aku mengenalnya sebagai peramah yang baik. Akhir-akhir ini, di Facebook, dia kerap mengartikulasikan protes atau apapun bernada negatif (baca: tidak suka) pada tiap unggahan foto kami dan kawan-kawan kami lainnya. Toh, niat kami memajang foto-foto tersebut hanya untuk have fun. Then, why she takes it too much? Kadang aku merasa tersinggung. Komentarnya mayoritas tak perlu diutarakan. Belakangan juga hubunganku dengannya merenggang (setidaknya menurut pengamatanku). Dia tampak asyik dengan belahan-belahan harinya yang lain sehingga abai di satu sisi. Tapi yang paling membuatku gerah, ya, karena protes-protesnya plus emosinya itu yang terlalu meledak-ledak juga kadang tak terduga. Aku sudah frustasi menghadapinya, jadi lebih baik aku diamkan saja.

Aku mendongak ke atas, mengamati bintang-bintang sembari menghela nafas yang lebih panjang. Sungguh, aku benar-benar capek. Di saat kami melintas lapangan rumput gelap dan kompleks masjid, suasana begitu mencekam. Gelap, tak ada lampu. Mungkin karena luasnya terlampau lebar, sehingga cahaya lampu neon yang menggantung di depan rumah warga hanya sanggup melingkupi sekitar satu meter bagian ujung lapangan tersebut. Selebihnya gelap luar biasa. Pohon-pohon pisang tumbuh beberapa di lintasan kami tersebut. Mengingat cerita almarhumah eyang puteriku, yang sering menyebut pohon pisang banyak ‘penunggunya’, aku jadi mempercepat langkahku. Teman-temanku pun tampak tergopoh-gopoh saat melewatinya. Aku tak ingin kejadian beberapa minggu lalu, yang juga merupakan persinggungan pertamaku dengan ‘dunia lain’ terulang. Jalan kelihatan lebih cerah di ujung lain lapangan rumput itu. Kami terus menyusuri jalan menurun itu, sambil sesekali bertanya kepada orang di sana, takut bila sekali lagi tersasar.

Kira-kira pukul 21.15 kami berenam tiba di depan kost Jihad. Untungnya, di luar kami bertemu kakak Jihad, Mas Farid, sehingga kami tidak kesusahan mencari kamar Jihad. Mas Farid saat itu tampak sibuk sekali. Dalam balutan kemeja hitam serta celana jeans hitam yang dua-duanya ketat (baca: press body) dia berseloroh sedikit tergesa-gesa termenunjukkan kamar adiknya. Kami memperhatikan dengan seksama dan kami laksanakan petunjuknya.

Sampai di bibir kamar, tiba-tiba keluar Sofia, Riri, dan Igna. Seketika setelah melihat gerombolan kami, Sofia berkata,”Percuma, dia udah tahu!”

Nggak papa, yang penting kami datang memberi surprise,” timpal Titik.

“Ya udah kalau gitu, masuk aja,” imbuh Sofia.

Seperti yang diduga sebelumnya, Jihad tidak terlalu terkejut dengan kedatangan kami. Memang sudah lumrah, sudah tradisi. Namun, hal lain yang begitu berbeda di malam itu ialah, suasananya. Begitu kering, hampa, tandus. Biasanya, bila kami bertemu satu sama lain dan bergerombol sendiri, cekakak-cekikik, gosip, serta nyanyi-nyanyi tak pernah terhindarkan. Tapi mala mini berbeda. Garing.

Di tengah surprise party yang tidak lagi mengejutkan itu, kami hanya sempat mencoreng muka Jihad dengan butter cream kue yang kami beli sebelumnya.

 JIHAD

Selepas itu, sisa waktu kami habiskan bercakap-cakap di luar kamar. Lagi-lagi, suasana tetap kering. Aku berasumsi, karena kami tidak tahu menahu perihal topik pembicaraan yang diobrolkan Sofia, Riri, dan Igna, jadinya aku dan kelima temanku hanya sanggup diam dan ikut tersenyum sesekali. Malas sekali untuk terlibat. Setelah puas, kira-kira pukul 22.30 rombonganku pulang. Sekali lagi berjalan kaki membalik langkah melampaui lintasan panjang tadi.

Udara semakin dingin merasuki tulang. Temaram lampu jalan diimbuh pancar cahaya bulan cembung yang tergantung di langit-langit semesta menjadi penyemarak perjalanan pulang. Sembari berjalan, kami berenam berbincang-bincang panjang lebar. Sampai pada satu titik, Maimun tiba-tiba mengarahkan pembicaraan kami ke masalah umpatan-umpatan lokal yang dia pelajari dari teman-teman lorongnya.

“Pantek!” seru Maimun keras-keras, tak menghiraukan sekeliling.

Di sebelah kanan kami, areal hutan terbentang dengan cekaman kegelapannya. Pun, di sebelah kiri, semak-semak rimbun tumbuh besar menutupi pagar-pagar pembatas. Singkat kata, kami, saat itu, berada di tengah-tengah cengkeraman sunyi dan gulitanya alam malam.

“Pantek!” lagi-lagi Maimun berteriak kencang mencabik kesunyian.

Ini yang aneh. Tiba-tiba, ada suara besar menghantam balik umpatan yang diserukan kencang oleh Maimun tersebut.

“Hey….!!!”

Kurang lebih seperti itu suara itu berbunyi. Suara itu seperti suara laki-laki. Timbrenya super berat. Sungguh menggetarkan. Namun, tak ada dari aku, Prima, dan Maimun yang memiliki suara seberat itu. Nadanya jelas marah. Seperti meradang setelah mendengar umpatan yang diseru kencang oleh Maimun.  Suara itu berepisentrum di sebelah kanan Titik. Padahal, nyata-nyata tidak ada satu lelakipun yang berada di samping Titik. Kami, tiga laki-laki ini, bergerombol di depan layaknya pemandu jalan. Mendadak kami saling toleh. Rupanya, hampir semua mendengar, kecuali Maimun. Sontak setelah menyadari itu bukan suara salah satu dari kami berenam, kami segera lari secepat yang kami bisa.

Titik tertinggal. Malangnya.

Prima menghentikan kami.

“Titik tak mungkin kita tinggal!” ujarnya keras.

Kami menghentikan langkah tepat di bawah pohon flamboyan yang batangnya menjulur keluar dari kegelapan hutan. Kami menanti Titik. Nafasku tersengal. Gejala umum setelah berlari agak panjang. Keringat seolah terperas keluar, menggenangi kulit kepala lalu terjun menyirami alis, pipi, leher, dada. Kemudian ia terserap kain baju. Aku basah. Energiku pun terkuras, menguap bersama hembus nafas-nafas pendek dalam lari panjang. Aku juga bisa merasakan jantungku berdetak kencang. Tap tap tap. Seirama dengan ritme tap dance. Pandanganku mengabur. Remang membatasi jarak pandangku.

Akhirnya, Titik datang mendekat. Dia tidak apa-apa. Dia tampak sama tersengalnya denganku. Kami melanjutkan perjalanan. Bahasan kami langsung tertuju pada pamali. Kami semua memperingatkan Maimun supaya tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Pamali, Mun!” kata Titik.

“Iya, kamu tahu sendiri kan, kita ada di mana,” lanjut Prima.

“Lain kali jangan lagi mengumpat, apalagi di tempat-tempat semacam ini,” Prima melanjutkan.

Kami melangkah pulang dan tiba di asrama sekitar tengah malam. Berdiskusi sebentar, lima belas menit kemudian kami putuskan kembali ke kamar masing-masing. Aku masih terheran dalam cekam.

Kurenungi…

***

Oh, Tuhanku! Lagi-lagi aku bersentuhan dengan ‘dunia lain’. Yang kedua kali ini terasa sangat nyata, karena sensor inderawiku telah sanggup menangkapnya.

Gelombang suara itu menghegemoni liang telingaku, menggetarkan gendang telingaku, melahirkan impuls yang melompat-lompat lewat sel-sel neuron sampai pada pencapaian terakhirnya. Otakku. Sensasi itu sungguh lain. Otakku menerjemahkannya dengan lihai.

Terlepas dari itu, sebuah pelajaran kupetik. Janganlah kamu serampangan di persimpangan!