Tags

,

Pagi ini segar betul kubuka mata setelah rehat di sela penat yang menjejal semalam suntuk. Kuawali dengan mendengar beberapa lagu yang tak begitu lawas juga tak begitu anyar dari earpiece laptopku. Semangatku kian menggelegak.

Namun, hari ini masih belum terarah. Belum kupetakan agenda kegiatan guna mengisi kekosongan hari ini. Aku berharap hari ini tidak seburuk kemarin. Aku tak mau kelabu mewarnai kanvas hariku hari ini. Yang kumau warna cerah menghegemoni.

colorfull

Ok, aku putuskan segera mandi, meraup kesegaran alam lewat basuhan air yang mengalir dari pancuran. Aku selalu menikmati saat-saat mandiku, kapanpun, termasuk hari ini. Mulai titik awal air mendarat di ubun-ubunku, sampai ia terus menggelincir turun ke ujung kakiku. Jika berada di tengah mandiku, aku selalu merasakan sensasi lain yang amat luar biasa. Entah apa itu. Aku merasa begitu bersemangat ketika lintasan air mengguyur di atas sel-sel epitel kulitku. Saking semangatnya, kadang aku lepas kendali. Tiba-tiba menyanyi dengan kerasnya, padahal suara tak seberapa.

Oia, aku lupa bilang kalau aku tinggal di sebuah asrama mahasiswa. Sudah hampir dua belas purnama aku di sana. Tinggal menghitung beberapa hari ke depan, dan aku akan genap setahun di sana.

Kembali ke rutinitasku, setelah keluar dari kamar mandi, aku berjalan menapaki lorong dengan tempong handuk memeluk pinggangku. Sembari berjalan, kuperhatikan pintu-pintu kamar tetangga selorongku. Ada yang sudah kusam warna kayunya, ada pula yang tampak baru setelah dipoles pelitur. Beraneka barang juga menempel sebagai penghiasnya. Stiker Kaskus.us, poster besar Palestine Day, gantungan pintu Jesus Christ, dan beberapa yang lain memasang foto ID di pintu kamarnya. Tak ada yang luar biasa.

Hap, kulompat adegan sandiwara harianku sampai baju sudah terpakai di badanku. Kutengok keluar sebentar lewat jendela kamarku, semua masih normal-normal saja. Matahari masih bersinar, rumput masih hijau, dan langit masih biru. Aku mencari inspirasi peta agenda hari ini. Kemana aku harus memijak? Kuingat-ingat lagi tempat yang nyaman sambil sesekali masih mengamati keadaan luar. Aha! Perpustakaan Pusat!

Tempat itulah yang terbersit pertama kali untuk kukunjungi. Aku setuju dengan diriku, lalu mulai bersiap ke sana. Kuambil memo SCTV juga spidol hitam Snowman dari mejaku. Keduanya kumasukkan ransel. Netbook Acer Aspire One-ku pun tak boleh alpa menjejal ke dalam. Tak lupa, aku cangking majalah Gatra edisi spesial tutup tahun 2008 yang di sana ada satu artikel karya penulis favoritku sekarang, Eep Saefulloh Fatah. Everything is packed up, now is time to go…

Kutuju halte bus depan asrama, ada bus, lalu masuk. Bus pun mulai berjalan melewati jalan lurus yang rusak di sana sini. Berhenti pertama kali di halte bus, kemudian lanjut dan baru berhenti kedua kalinya di stasiun. Aku turun di sini. Di bus tadi, aku duduk samping tetangga depan kamarku, Iswanto namanya. Kami hanya mengobrol ringan seputar kesibukan masing-masing dan rencana pulang kampung, tak lebih.

Aku menyeberang jalan yang sudah mulai ramai di terangi fajar yang kian memanas. Kuderap langkahku sampai ke seberang, dan masuklah aku ke hutan karet kecil. Kuamati beberapa pohon, mereka tampak merana saat disadap getahnya. Kulit batangnya disayat dengan benda tajam, semisal golok, terluka, lalu bergetah-bukan berdarah. Getah putih yang mengucur melalui lintasan sayatan yang menganga ditampung di bekas botol air minum kemasan ukuran 200 ml yang juga sudah dipenggal separuh. Tetes demi tetes itu katanya berharga rupiah. Aku tak mempedulikan itu, yang menjadi perhatianku kini hanya pohon-pohon karet  yang tampak merintih kesakitan karena sayatan benda tajam para orang penyadap getah. Mereka kian kurus, tak bergizi. Setiap hari batangnya yang rapuh patah dan gugur ke tanah. Memilukan.

Tidak adakah belas kasihan untuk pohon karet? Aku merasa mereka juga makhluk ciptaan-Nya, yang punya hak hidup sama dengan manusia.

Belum kutemukan jawabnya.

karet oh karet

Keluar dari hutan karet aku masuki area kampusku, FISIP. Kuberjalan sambil tetap mengamati sekitar. Suasana begitu lengang, karena memang ini sudah waktunya liburan panjang-tiga bulan. Cuma segelintir mahasiswa yang sudah datang-bisa kuhitung dengan jari tangan, padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Aku meneruskan perjalananku untuk mencapai perpustakaan pusat.

Baru setelah keluar dari pagar belakang FIB, aku bisa masuk pekarangan perpus pusat. Usai menulis nama di buku tamu aku menitip tas di loker, kubawa beberapa barang yang kurasa perlu. Aku naik ke lantai 4-tempat thesis dan disertasi orang pintar-dengan lift sendirian. Kemudian, kubuka laptopku, mencoba terhubung ke internet, dan connected!

Sebagai prolog biasanya kubuka facebook (tapi sekarang tak bisa, karena di-ban rektorat), e-mail Yahoo!, google, kompas, dan swinde. Aku mencari informasi-informasi ringan entah berita, gosip, gambar, atau apalah. Baru, sekitar sejam yang lalu, kira-kira pukul 10.06, terbersit di benakku untuk membangun blog-sekali lagi-, di tempat yang baru-wordpress.com.

Aku mendaftar, mendapat akun, dan mulai nge-blog. Kini, aku telah resmi menjadi penduduk baru kompleks blog wordpress. Layaknya tetangga yang baru pindah rumah, aku ingin menyapa para tetangga lama, Pak RT, atau siapapun yang berdiam di sini.

Perkenalkan,

Namaku Gilang Reffi Hernanda. Pendeknya, panggil aku Gilang saja. Aku baru berusia 19 tahun pada 23 Mei 2009 silam. Aku tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI 2008. Statusku masih ‘single’. Jadi, aku masih ‘terbuka’ bagi siapapun. Secara fisik, aku tak terlalu istimewa. Tinggiku hanya 167 cm, dengan berat kira-kira 75 kg. Urusan muka, aku tak mau menilai. Bagiku, semua adalah mahakarya Tuhan Yang Maha Esa yang haram untuk dipersalahkan. Cukup.

Salam kenal dariku, para tetanggaku. Mari kita bangun keharmonisan hidup bertetangga dalam ranah maya yang tak berbatas ini. Harapku, kita bisa saling melengkapi, mengisi, dan mengoreksi.

Sampai di sini prologku dan mari kita jalani hari pertama bertetangga kita.

Regards,

Gilang Reffi Hernanda