Digemparkan Gempa, Warga FISIP UI Heboh

DEPOK – Hampir pukul 15.00 sore (2/9) tadi, suasana Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC) yang terletak di Gedung D FISIP UI, Depok, yang awalnya lengang menjadi rusuh. Pengunjung perpustakaan tiga lantai itu lantas berhamburan keluar setelah merasakan lantai perpustakaan itu bergoyang. Mendadak perpustakaan menjadi kosong melompong.

Saya, yang juga merasakan getaran gempa menjelang pukul 15.00 tersebut, awalnya sedang asyik berdiskusi di National Building Center (NBC). Namun, setelahnya, saya langsung memutuskan lari meninggalkan ruangan NBC, yang juga merupakan bagian dari gedung MBRC.

Di luar, para mahasiswa, dosen, dan bahkan dekan berkumpul dengan terus membicarakan gempa. Suasananya riuh diliputi cemas. Semuanya tampak sibuk menelepon dengan raut muka penuh kegelisahan sesaat setelah getaran itu mengguncang FISIP UI.

Kecemasan yang ditimbulkan gempa, yang dilansir beberapa situs berita online berepisentrum di barat daya Tasikmalaya itu, juga sukses membuat sejumlah kelas yang sedang berlangsung saat itu dibatalkan.

Mansyur, seorang mahasiswa Sosiologi FISIP UI 2006, menuturkan, karena dosen resah dan takut bilamana terjadi gempa susulan, maka kelas yang seharusnya berakhir pukul 16.30 sontak dihentikan.

Di samping itu, Kamal, mahasiswa jurusan Administrasi angkatan 2008 yang berasal dari Tasikmalaya, tampak cemas ketika dia kembali gagal dan gagal lagi menghubungi keluarganya di sana.

“Saya takut mama saya kenapa-napa,” akunya sambil terus bermurung muka.

Kini, situs-situs berita online masih terus meng-update efek yang ditimbulkan gempa, mulai dari kerusakan sampai korban jiwa.

Mari kita sama-sama doakan supaya semua saudara kita selamat dari ‘ujian kecil’ dari Tuhan ini. Amin.

Leave a comment »

Holiday is Watching Movies Time (Wait and See)

Mammamia lezatos, teman-teman!

Pertama, aku ingin mengucapkan selamat berlibur bagi yang menunaikannya. Nikmati sebisa mungkin liburan kalian, seberapapun lamanya. Mengapa? karena ketika kalian kembali ke rutinitas yang membekap kalian dalam monotoni kehidupan, setidaknya kalian sudah pernah menghirup udara bebas yang memberikan energi baru. Jadi, tidak ada yang perlu kalian sesalkan di belakang.

Nah, kebetulan, tiga bulan ini, tepatnya dari awal Juni hingga akhir Agustus, aku libur kuliah. Dan seperti yang aku sarankan di atas, aku ingin menikmati liburanku sampai puas. Untuk kesempatan liburan ini, aku memilih membaca beberapa buku (tapi mungkin tidak akan kutuntaskan) dan menonton beberapa judul film.

movies

Supaya manfaat yang aku dapat tidak hanya aku simpan sendiri, maka aku putuskan membuat review untuk setiap judul film (juga mungkin beberapa judul buku) yang aku tonton (dan aku baca). Aku harap, semoga review yang akan aku post nanti bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kalian untuk menonton. Tapi, aku bukan menonton film-film anyar yang sedang tayang di bioskop, ya. Yang aku tonton ialah CD-CD yang aku beli dan sewa. Judul-judulnya antara lain, Sixty Six, Baby Mama, The Unborn, Yes Man, Confessions of a Shopaholic, dan ada beberapa lagi yang masih menanti aku tonton.

Tunggu saja ya teman-teman!

Di setiap review, aku kemungkinan juga akan menyertakan penawaran menarik, seperti pembelian CD Original dengan harga super miring. Atau, kalau tidak begitu, aku akan berikan kuis yang bisa kalian ikuti, untuk mendapatkan CD film yang kureview secara GRATIS!

Tertarik? sekali lagi aku tekankan, tunggu saja! tetap stay di sini…

Selain itu, aku juga ingin mengabarkan, sekarang aku sedang berada di kampung halaman tercintaku, Gresik, Jawa Timur. Sudah hampir seminggu di sini, dan aku sangat senang! he-he-he. Namun, di sisi lain, aku juga sedih. FYI, di Gresik minim koneksi hot spot, sedangkan jarak rumahku ke warnet juga lumayan. Karena alasan itulah, kemungkinan besar, selama dua bulan ini, aku tidak bisa sesering biasanya menyapa kalian, para pembaca setiaku.

Tapi, aku tidak akan meninggalkan kalian begitu saja. Aku akan tetap menemani kalian dengan tulisan-tulisanku. I will share wwhat I think I should share. Gampangnya, I will keep sharing. Karena apa?

Because I Love You All, Guys

Terima kasih atas kunjungan dan kepercayaan kalian.

Best Regards,

Gilang Reffi Hernanda

Comments (7) »

Waspadai Sayuran Hijau!

Sungguh menggiurkan bilamana melihat sajian sayur singkong hijau dengan paduan kuah kari dan sambal hijau dalam seporsi nasi Padang saat rehat makan siang. Selain sedap, kata mama, sayur juga mengandung vitamin dan mineral yang melimpah. Keduanya sangat dibutuhkan guna memperlancar metabolisme tubuh kita, imbuh guru Biologi kita dahulu, jika kita masih ingat.

Semuanya memang tidak salah. Akan tetapi, bila sayur yang katanya sarat zat-zat yang esensial bagi tubuh itu terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia yang berbahaya, apa yang terjadi? Bukan sehat yang didapat, malah sebaliknya, penyakit menyerang, atau mungkin pada gilirannya nanti,l kematian menjemput. Tentu kita semua tidak mau, kan? Maka dari itu kita semua harus mulai berhati-hati.

nasi padang

[Photo Credit: p2kafe.wordpress.com]

Bleng atau Borax

Setelah ditemukannya daging ayam dan sapi yang mengandung Borax beberapa waktu lalu, ternyata, menurut penelusuran tim Benang Merah, Global TV, sayuran hijau, kini juga telah turut dijamah bahan kimia berbahaya ini. Guna menyamarkan identitas aslinya, Borax dilepas ke pasaran dengan label bleng (baca dengan lafal e sama dengan yang ada pada kata ‘redup’ atau ‘empuk’).

Bleng alias Borax ini umumnya digunakan untuk mempercepat empuknya sayur mayur yang dimasak sekaligus memberikan aroma sedap, serta mempertahankan warna hijau dari sayur lebih lama. Konsumer  utama Borax ini, berdasarkan penulusuran dan wawancara yang dilakukan oleh tim Benang Merah, ialah para pengelola rumah makan Padang.

“Tidak ada rumah makan Padang yang tidak menggunakan bleng,” aku salah seorang pemilik rumah makan Padang yang disamarkan identitasnya. Daun singkong dalam menu masakan Padang sifatnya wajib ada. Namun, setelah dimasak, rupanya daun singkong ini cepat berubah warna menjadi kehitaman. Sebab itu, bleng menjadi solusi ampuh mengatasi masalah sayur singkong yang cepat menghitam ini. Menurut mereka, saat memakai bleng, daun singkong lebih cepat masak, juga tahan lebih lama.

Masalahnya, mereka, para pedagang dan pemilik rumah makan ini, tidak tahu menahu bahwa bleng adalah nama lain Borax. Mereka menganggap, dengan nama yang tidak identik, maka kandungannya pun jauh berbeda. Padahal, bleng merupakan cap yang tak lain hanya nama lain dari Borax. Di samping itu, sosialisasi yang dilakukan Badan POM masih amat minim. Akibatnya bleng a.k.a Borax ini masih bisa beredar bebas di pasaran tanpa ada inspeksi maupun penanganan lebih lanjut.

Bahayanya?

Bleng atau Borax, merujuk pada pernyataan Ilyani S. Andang, seorang peneliti YLKI, sudah tidak diperkenankan, bahkan dilarang, digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Zat ini diduga mempunyai sifat racun.

“Efek Borax memang tidak tampak secara instan, melainkan akumulatif. Pada fase awal, Borax dapat menimbulkan gangguan pencernaan, pusing, atau mual. Namun, bila sudah mencapai tahapan akut, Borax dapat memicu kanker, juga bahkan kematian,” tuturnya saat diwawancarai tim Benang Merah.

Wikipedia pun melansir data yang serupa. Disebutkan, kendati Borax bukan benar-benar racun, bukan berarti penggunaannya, juga termasuk di dalamnya, konsumsi, aman. Dalam terpaan sederhana, Borax mampu menimbulkan iritasi kulit dan pernafasan. Konsumsi Borax juga mampu memicu rasa mual, muntah-muntah, sakit perut akut, dan diarrhea (mencret). Pada konsumsi lanjut, seseorang bisa terkena respiratory depression, erythematous, juga gagal ginjal.

Karena itulah, masyarakat perlu berhati-hati. Apalagi mendeteksi keberadaan Borax di sayur agak susah. Selain itu, masyarakat umum masih berpikir, sayur yang masih hijau setelah dimasak ialah sayur yang kandungan vitamin dan mineralnya masih banyak, tidak hilang bersama air rebusan atau sebagainya. Tetapi, pada kenyataannya tidak selalu begitu. Maka dari itu, mulai sekarang kita harus mulai waspada!

Tak hanya masakan Padang

Temuan penggunaan Borax pada pengolahan sayur ternyata tidak hanya ada di rumah makan Padang. Penjual sayur pecel keliling, juga mengaku menggunakan bleng alias Borax ini sebagai bahan tambahan saat memasak.

“Saya pakai bleng saat merebus kecambah, kacang panjang, kangkung, bayam, juga sayur lain yang menjadi bahan dasar pecel.” Begitu ungkap salah seorang wanita penjual pecel keliling di Jakarta.

Alasannya memakai bleng serupa dengan yang diutarakan pemilik rumah makan Padang di atas. Akunya, sayur yang direbus lebih cepat matang dan tahan lebih lama dibanding tanpa menggunakan bleng. Yang lebih menariknya menggunakan bleng adalah karena harganya murah dan tersedia banyak di pasaran.

Selamatkan kami yang tidak tahu!

Berdasarkan informasi yang aku dapat dari beberapa teman pembaca blog juga teman diskusi di kampus, ternyata kewenangan untuk mengawasi pangan ini ternyata dipegang oleh Dinas Kesehatan Daerah. Mengetahui hal tersebut, kita patut mempertanyakan bagaimana kinerja DinKes selama ini. Pasalnya, kita tahu, proksimitas DinKes dengan kita, tidak jauh, bahkan sebaliknya, sangat dekat.

Seharusnya, sosialisasi terhadap masyarakat lebih digencarkan kembali. Sebab, sebagaimana kita ketahui bersama, tidak semua orang mengetahui mengenai hal ini. DinKes bisa menggandeng media maupun mengajak masyarakat secara langsung agar informasi dapat tersalurkan dengan baik.

Di luar itu, Ilyani juga menyatakan, Borax dapat diganti dengan STPP, karena selain aman, STPP juga berizin sebagai bahan tambahan makanan di Indonesia.

Sebagai penutup, aku ingin sampaikan, kita semua harus tetap berhati-hati akan peredaran makanan berborax maupun makanan berbahaya lainnya. Menjadi awas, saling bertukar informasi, dan saling mengingatkan satu sama lain melalui media apapun merupakan bentuk paling kecil kita untuk memproteksi diri kita juga masyarakat Indonesia yang lainnya.

Comments (69) »

Short Post: Launching Page Galeria

Wah, setelah lama menunggu, akhirnya, hari ini aku putuskan untuk ‘menyentuh’ page blogku yang kuberi nama ‘Galeria’. Di page tersebut, teman-teman bisa melihat beberapa foto yang kubuat dan kuedit. Nikmati saja.

galeria

Nah, yang menarik di sana, setelah teman-teman puas melihat galeri foto koleksiku, bila teman-teman tertarik minta di edit fotonya, bisa juga! Caranya gimana? Lihat saja di page ‘Galeria’ nya.

Pokoknya, I’ll serve you as best as I can!

Regards,

Gilang Reffi Hernanda

Comments (4) »

Sesobek Syukur dari Dimensi Jumat

field

[Photo credit: emats.deviantart.com]

Angin sejuk berhembus segar menggandeng dedaunan kering yang gugur terpisah dari cokol pohonnya. Semilirnya menyisir rambutku pelan-pelan. Aku terpaku dibelai tangan-tangan angin sembari menikmati siraman rohani yang disirat di sela khutbah. Kutopangkan daguku sambil menyimak mimbar dengan seorang ustadz penguasanya.

Kali ini tentang bersyukur. Satu hal yang sering diserukan, tapi kerap pula diabaikan. Manusia selalu mengeluh tak berkecukupan. Mengeluh akan kesengsaran yang merayapi kehidupannya, yang akunya bisa membunuh perlahan. Manusia tak pernah merasa puas. Abai bersyukur pada Illahi Robbi. Meski tak semua.

Pun, manusia selalu mencari kesuksesan. Kesuksesan yang entah di mana ini selalu sukses merangsang otot manusia bekerja, dan otaknya berputar. Demi meraih koordinat pasti kesuksesan hidupnya. Padahal, yang tak mereka sadari, sampai sekarang, diri mereka ialah pengejawantahan kesuksesan.

Pikirkanlah. Sebelum fisik manusia terbentuk, telah terjadi seleksi di ranah biologis. Calon-calon manusia berenang bersama, demi tujuan akhir yang identik–menembus dinding sel telur. Satu demi satu tumbang, kalah, dan mati sebelum mampu menyusup. Sedangkan benih yang paling perkasa, yang paling kuat, yang paling sukses–yang tidak lain benih diri kita–berhasil membobol dinding ovum, lalu lewat beberapa tahap transformasi berubah menjadi diri kita.

Benar-benar kesuksesan dari Yang Maha Agung. Tapi, pernahkah kita mensyukurinya? Bersujud syukur menghantar rasa terima kasih kita pada-Nya?

Tidak? Bahkan mungkin mengucap hamdalah untuk itu saja tidak pernah. Kita selalu menakar kesuksesan dengan kadar materiil yang bisa dihitung secara matematis. Bila koleksi rupiah tertimbun banyak seperti lemak, kita akan menamai dan dinamai ’sukses’, namun, bila yang sebaliknya terjadi, kita pasti akan mengutuki dan dikutuki sebagai ‘orang susah pembawa susah’.

Kita alpa dengan kesuksesan dalam tataran filosofis yang kadarnya jauh lebih berharga ketimbang kesuksesan kasat mata. Kalau dirasa-rasa, ini memang sungguh naif. Dunia seakan menggejala menjangkiti sisi kehidupan kita, sehingga pojok-pojok otak kita seolah sudah sesak diduduki hasrat serta obsesi duniawi, sehingga plot-plot syukur pada Allah SWT semakin tergusur lalu mengalami delesi dari otak kita.

Sudah saatnya bersyukur

Usai tercengang meresapi makna khutbah Jumat ini, marilah kita bersama bersimpuh dan menengadahkan tangan memanjatkan syukur pada Allah. Mengucap hamdalah–meski untuk pertama kalinya–atas penciptaan kita di dunia. Penuhilah diri kita dengan rasa syukur pada tiap detiknya.

Hirup oksigen dengan nama Allah, kemudian rasakannya memenuhi parumu. Nikmati dan syukuri saat alirannya memasuki lubang hidungmu. Menggetarkan buluh-buluh halus di dalam, lalu membanjiri tenggorokanmu, dan bermuara di alveoulus. Nikmati dan syukuri saat paru-parumu penuh. Sadarkan dirimu bahwa kamu adalah seorang manusia. Ciptaan Allah yang telah sukses melampaui ujian pra-kehidupan-Nya.

Syukurilah nafas-nafasmu, juga detak jantung, dan pencernaanmu. Semua masih bekerja karena kamu sukses menempuh segala coba yang dilimpahkan-Nya padamu. Cintailah dirimu sebagai piala kesuksesan yang berharga ribu triliunan–kalau memang masih berpikir materialistis–yang walau kekayaan seluruh orang di bumi dijumlahkan, takkan bisa membelinya. Karena nominalmu tak terhingga.

Lalu aku…

Aku masih terperangah sekaligus merinding. Aku sadar, aku termasuk orang yang tak pandai bersyukur. Paling tidak sampai saat itu. Aku seorang perfeksionis yang selalu mengeluh dan mengeluh. Tak pernah cukup merasa puas.

praying

[Photo credit: uphat.deviantart.com]

Kalau kita masih sama, kini saatnya kita berubah. Mari bersama-sama ikut jamaah yang menengadahkan tangan memanjatkan syukur pada Allah SWT. Biarkan bulir-bulir air mata kita meleleh atas nama syukur pada-Nya. Mari meratapi dan menyadari, hidup ini sungguh penuh kesuksesan. Hanya kita tak sepenuhnya sadar tentangnya.

***

Hidup yang oh… penuh dinamika!

Comments (14) »